JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH SEKARANG TELAH BERADA BERKAH ALLAH TA'ALA BERSEMAYAM DALAM DADA, JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH DISINI KAMI BERMUNAJAH BERKAH NUR ROSULALLAH TERPANCAR DALAM WAJAH, JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH TERDIRI PARA REMAJA PEMUDA MENGHARAP RIDHO ALLAH TA'ALA ATAS DOSA-DOSA YANG ADA, YA ALLAH YANG MAHA AGUNG DISINI KAMI BERSIMPU SAMPAI USIAKU TAK MAMPU KARENA ALLAH TA'ALA YANG MAHA SATU
Tampilkan postingan dengan label Humor Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Sufi. Tampilkan semua postingan

Orang-orang Kanibal

Saat itu Abu Nawas baru saja pulang dari istana setelah dipanggil Baginda. la tidak langsung pulang ke rumah melainkan berjalan-jalan lebih dahulu keperkampungan orang-orang badui. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Abu Nawas yang suka mempelajari adat istiadat orang-orang badui. Pada suatu perkampungan, Abu Nawas sempat melihat sebuah rumah besar yang dari luar terdengar suara hingar bingar seperti suara kerumunan puluhan orang. Abu tertarik, ingin melihat untuk apa orang-orang badui berkumpul di sana, ternyata di rumah besar itu adalah tempat orang badui menjual bubur haris yaitu bubur khas makanan para petani. Tapi Abu Nawas tidak segera masuk ke rumah besar itu, merasa lelah dan ingin beristirahat maka ia terus berjalan ke arah pinggiran desa.


Abu Nawas beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. la merasa hawa di situ amat sejuk dan segar sehingga tidak berapa lama kemudian mehgantuk dan tertidur di bawah pohon. Abu Nawas tak tahu berapa lama ia tertidur, tahu-tahu ia merasa dilempar ke atas lantai tanah. Brak! lapun tergagap bangun.


"Kurang ajar! Siapa yang melemparku?" tanyanya heran sembari menengok kanan kiri. Ternyata ia berada di sebuah ruangan pengap berjeruji besi. Seperti penjara.

"Hai keluarkan aku! Kenapa aku dipenjara di sini.!"

Tidak berapa lama kemudian muncul seorang badui bertubuh besar. Abu Nawas memperhatikan dengan seksama, ia ingat orang inilah yang menjua! bubur haris di rumah besar di tengah desa. "Jangan teriak-teriak, cepat makan ini !" kata orang sembari menyodorkan piring ke lubang ruangan. Abu Nawas tidak segera makan. "Mengapa aku dipenjara?"

"Kau akan kami sembelih dan akan kami jadikan campuran bubur haris."

"Hah? Jadi yang kau jual di tengah desa itu bubur manusia?"

"Tepat.... itulah makanan favorit kesukaan kami."

"Kami...? Jadi kalian sekampung suka makan daging manusia?"

"lya, termasuk dagingmu, sebab besok pagi kau akan kami sembelih!"

"Sejak kapan kalian makan daging manusia?"

"Oh.., sejak lama .... setidaknya sebulan sekali kami makan daging manusia."

"Dari mana saja kalian dapatkan daging manusia?"

"Kami tidak mencari ke mana-mana, hanya setiap kali ada orang masuk atau lewat di desa kami pasti kami tangkap dan akhirnya kami sembelih untuk dijadikan butjur." Abu Nawas diam sejenak. la berpikir keras bagaimana caranya bisa meloloskan diri dari bahaya maut ini. la merasa heran, kenapa Baginda tidak mengetahui bahwa di wilayah kekuasaannya ada kanibalisme, ada manasia makan manusia. "Barangkali para menteri hanya melaporkan hal yang baik-baik saja. Mereka tidak mau bekerja keras untuk memeriksa keadaan penduduk." pikir Abu Nawas. "Baginda harus mengetahui hal seperti ini secara langsung, kalau perlu....!" Setelah memberi makan berupa bubur badui itu meninggalkan Abu Nawas. Abu Nawas tentu saja tak berani makan bubur itu jangan-jangan bubur manusia. la menahan lapar semalaman tak tidur, tubuhnya yang kurus makin nampak kurus.


Esok harinya badui itu datang lagi.

"Bersiaplah sebentar lagi kau akan mati."

Abu Nawas berkata,"Tubuhku ini kurus, kalaupun kau sembelih kau tidak akan memperoleh daging yang banyak. Kalau kau setuju nanti sore akan kubawakan temanku yang bertubuh gemuk. Dagingnya bisa kalian makan selama lima hari."


"Benarkah?"

"Aku tidak pernah bohong!"

Orang badui itu diam sejenak, ia menatap tajam kearah Abu Nawas. Entah kenapa akhirnya orang badui itu rnempercayai dan melepaskan Abu Nawas. Abu Nawas langsung pergi ke istana menghadap Bagirida. Setelah berbasa-basi maka Baginda bertanya kepada Abu Nawas.

"Ada apa Abu Nawas? Kau datang tanpa kupanggil?"

"Ampun Tuanku, hamba barus saja pulang dari suatu desa yang aneh."

"Desa aneh, apa keanehannya?"

"Di desa tersebut ada orang menjual bubur haris yang khas dan sangat lezat. Disamping itu hawa di desa itu benar-benar sejuk dan segar." "Aku ingin berkunjung ke desa itu. Pengawal! Siapkan pasukan!" "Ampun Tuanku, jangan membawa-bawa pengawal. Tuanku harus menyamar jadi orang biasa."

"Tapi ini demi keselamatanku sebagai seorang raja"

"Ampun Tuanku, jika bawa-bawa tentara maka orang sedesa akan ketakukan dan Tuanku takkan dapat melihat orang menjual bubur khas itu."

"Baiklah, kapan kita berangkat?"

"Sekarang juga Tuanku, supaya nanti sore kita sudah datang di perkampungan itu."


Demikianlah, Baginda dengan menyamar sebagai sorang biasa mengikuti Abu Nawas ke perakmpungan orang-orang badui kanibal. Abu Nawas mengajak Baginda masuk ke rumah besar tempat orang-orang makan bubur. Di sana mereka membeli bubur.

Baginda memakan bubur itu dengan lahapnya.

"Betul katamu, bubur ini memang lezat!" kata Baginda setelah makan."Kenapa buburmu tidak kau makan Abu Nawas."

"Hamba masih kenyang," kata Abu Nawas sambil melirik dan berkedip ke arah penjual bubur.

Setelah makan, Baginda diajak ke tempat pohon rindang yang hawanya sejuk.

"Betul juga katamu, di sini hawanya memang sejuk dan segar ..... ahhhhh ........ aku kok mengantuk sekali."kata Baginda.

"Tunggu Tuanku, jangan tidur dulu....hamba pamit mau buang ari kecil di semar belukar sana."

"Baik, pergilah Abu Nawas!"

Baru saja Abu Nawas melangkah pergi, Baginda sudah tertidur, tapi ia segera terbangun lagi ketika mendengar suara bentakan keras.

"Hai orang gendut! Cepat bangun ! Atau kau kami sembelih di tempat ini!"

ternyata badui penjual bubur sudah berada di belakang Baginda dan menghunus pedang di arahkan ke leher Baginda.

"Apa-apaan ini!" protes Baginda.

"Jangan banyak cakap! Cepat jalan !"

Baginda mengikuti perintah orang badui itu dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara.

"Mengapa aku di penjara?"

"Besok kau akan kami sembelih, dagingmu kami campur dengan tepung gandum dan jaduilah bubur haris yang terkenal lezat. Hahahahaha !"

"Astaga jadi yang kumakan tadi...?"

"Betul kau telah memakan bubur kami, bubur manusia."

"Hoekkkkk....!" Baginda mau muntah tapi tak bisa.

"Sekarang tidurlah, berdoalah, sebab besok kau akan mati."

"Tunggu...."

"Mau apa lagi?"

"Berapa penghasilanmu sehari dari menjual bubur itu?"

"Lima puluh dirham!"

"Cuma segitu?"

"lya!"

"Aku bisa memberimu lima ratus dirham hanya dengan menjual topi."

"Ah, masak?"

"Sekarang berikan aku bahan kain untuk membuat topi. Besok pagi boleh kail coba menjual topi buatanku itu ke pasar. Hasilya boleh kau miliki semua !" Badui itu ragu, ia berbalik melangkah pergi. Tak lama kemudian kembali lagi dengan bahan-bahan untuk membuat topi. Esok paginya Baginda menyerahkan sebuah topi yang bagus kepada si badui.

Baginda berpesan,"Juallah topi ini kepada menteri Farhan di istana Bagdad."

Badui itu menuruti saran Baginda.

Menteri Farhan terkejut saat melihat seorang badui datang menemuinya.

"Mau apa kau?" tanya Farhan.

"Menjual topi ini..."

Farhan melirik, topi itu memang bagus. la mencoba memeriksanya dan alangkah terkejutnya ketika melihat hiasan berupa huruf-huruf yang maknanya adalah surat dari Baginda yang ditujukan kepada dirinya.

"Berapa harga topi ini?"

"Lima ratus dirham tak boleh kurang!"

"Baik aku beli !"

Badui itu langsunng pulang dengan wajah ceria. Sama sekali ia tak tahu jika Farhan telah mengutus seorang prajurit untuk mengikuti langkahnya. Siangnya prajurit itu datang lagi ke istana dengan melaporkan lokasi perkampungan si penjual bubur.

Farhan cepat bertidak sesuai pesan di surat Baginda. Seribu orang tentara bersenjata lengkap dibawa ke perkampungan. Semua orang badui di kampung itu ditangkapi sementara Baginda berhasil diselamatkan. "Untung kau bertindak cepat, terlambat sedikit saja aku sudah jadi bubur!" kata Baginda kepada Farhan.

"Semua ini gara-gara Abu Nawas!" kata Farhan.

"Benar! Tapi juga salahmu! Kau tak pernah memeriksa perkampungan ini bahwa penghuninya adalah orang-orang kanibal!"

"Bagaimanapun Abu Nawas harus dihukum!"

"Ya, itu pasti!"

"Hukuman mati!" sahut Farhan.

"Hukuman mati? Ya, kita coba apakah dia bisa meloloskan diri?" sahut Baginda.

Tugas Yang Mustahil

Abu Nawas belum kembali. Kata istrinya ia bersarna seorang Pendeta dan

seorang Ahli Yoga sedang melakukan pengembaraan suci. Padahal saat ini

Baginda amat membutuhkan bantuan Abu Nawas. Beberapa hari terakhir ini

Baginda merencanakan membangun istana di awang-awang. Karena sebagian

dari raja-raja negeri sahabat telah membangun bangunan-bangunan yang luar

biasa.

Baginda tidak ingin menunggu Abu Nawas iebih lama lagi. Beliau mengutus

beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Abu Nawas. Mereka tidak

berhasil menemukan Abu Nawas kerena Abu Nawas ternyata sudah berada di

rumah ketika mereka baru berangkat.

Abu Nawas menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Baginda amat riang.

Saking gembiranya beliau mengajak Abu Nawas bergurau. Setelah saling tukar

menukar cerita-cerita lucu, lalu Baginda mulai mengutarakan rencananya.

"Aku sangat ingin membangun istana di awang-awang agar aku Iebih terkenal di

antara raja-raja yang lain. Adakah kemungkinan keinginanku itu terwujud,

wahai Abu Nawas?"

"Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan di dunia ini Paduka yang mulia." kata

Abu Nawas berusaha mengikuti arah pembicaraan Baginda.

"Kalau menurut pendapatmu hal itu tidak mustahil diwujudkan maka aku

serahkan sepenuhnya tugas ini kepadamu." kata Baginda puas.

Abu Nawas terperanjat. la menyesal telah mengatakan kemungkinan

mewujudkan istana di awang-awang. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Katakata

yang telah terlanjur didengar oleh Baginda tidak mungkin ditarik kembali.

Baginda memberi waktu Abu Nawas beberapa minggu. Rasanya tak ada yang

lebih berat bagi Abu Nawas kecuali tugas yang diembannya sekarang.

Jangankan membangun istana di langit, membangun sebuah gubuk kecil pun

sudah merupakan hal yang mustahil dikerjakan. Hanya Tuhan saja yang mampu

melakukannya. Begitu gumam Abu Nawas.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Tak ada yang dikerjakan Abu Nawas kecuali

memikirkan bagaimana membuat Baginda merasa yakin kalau yang dibangun itu

benar-benar istana di langit. Seluruh ingatannya dikerahkan dan dihubunghubungkan.

Abu Nawas bahkan berusaha menjangkau masa kanak-kanaknya.

Sampai ia ingat bahwa dulu ia pernah bermain layang-layang.

Dan inilah yang membuat Abu Nawas girang. Abu Nawas tidak menyia-nyiakan

waktu lagi. la bersama beberapa kawannya merancang layang-layang raksasa

berbentuk persegi empat. Setelah rampung baru Abu Nawas melukis pintu-pintu

serta jendela-jendela dan ornamen-ornamen lainnya.

Ketika semuanya selesai Abu Nawas dan kawan-kawannya menerbangkan

layang-layang raksasa itu dari suatu tempat yang dirahasiakan.



Tipu dibalas Tipu

Ada seorang Yogis (Ahli Yoga) mengajak seorang Pendeta bersekongkol akan

memperdaya Iman Abu Nawas. Setelah mereka mencapai kata sepakat, mereka

berangkat menemui Abu Nawas di kediamannya.

Ketika mereka datang Abu Nawas sedang melakukan salat Dhuha. Setelah

dipersilahkan masuk oleh istri Abu Nawas mereka masuk dan menunggu sambil

berbincang-bincang santai.

Seusai salat Abu Nawas menyambut mereka. Abu Nawas dan para tamunya

bercakap-cakap sejenak.

"Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau

engkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami." kata Ahli Yoga.

"Dengan senang hati. Lalu kapan rencananya?" tanya Abu Nawas polos.

"Besok pagi." kata Pendeta.

"Baiklah kalau begitu kita bertemu di warung teh besok." kata Abu Nawas

menyanggupi.

Hari berikutnya mereka berangkat bersama. Abu Nawas mengenakan jubah

seorang Sufi. Ahli Yoga dan Pendeta memakai seragam keagamaan mereka

masing-masing. Di tengah jalan mereka mulai diserang rasa lapar karena

mereka memang sengaja tidak membawa bekal.

"Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan derma guna

membeli makanan untuk kita bertiga. Karena kami akan mengadakan

kebaktian." kata Pendeta. Tanpa banyak bicara Abu Nawas berangkat mencari

dan mengumpulkan derma dari dusun satu ke dusun lain. Setelah derma

terkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang. Abu

Nawas kembali ke Pendeta dan Ahli Yoga dengan membawa makanan. Karena

sudah tak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata,

"Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga." "Jangan sekarang. Kami

sedang berpuasa." kata Ahli Yoga.

"Tetapi aku hanya menginginkan bagianku saja sedangkan bagian kalian

terserah pada kalian." kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.

"Aku tidak setuju. Kita harus seiring seirama dalam berbuat apa pun:" kata

Pendeta.

"Betul aku pun tidak setuju karena waktu makanku besok pagi.



Menjebak Maling

Pada zaman dahulu orang berpikir dengan cara yang amat sederhana. Dan

karena kesederhanaan berpikir ini seorang pencuri yang telah berhasil

menggondol seratus keping lebih uang emas milik seorang saudagar kaya tidak

sudi menyerah.

Hakim telah berusaha keras dengan berbagai cara tetapi tidak berhasil

menemukan pencurinya. Karena merasa putus asa pemilik harta itu

mengumumkan kepada siapa saja yang telah mencuri harta miliknya merelakan

separo dari jumlah uang emas itu menjadi milik sang pencuri bila sang pencuri

bersedia mengembalikan. Tetapi pencuri itu malah tidak berani menampakkan

bayangannya.

Kini kasus itu semakin ruwet tanpa penyelesaian yang jelas. Maksud baik

saudagar kaya itu tidak mendapat-tanggapan yang sepantasnya dari sang

pencuri. Maka tidak bisa disalahkan bila saudagar itu mengadakan sayembara

yang berisi barang siapa berhasil menemukan pencuri uang emasnya, ia berhak

sepenuhnya memiliki harta yang dicuri.

Tidak sedikit orang yang mencoba tetapi semuanya kandas. Sehingga pencuri

itu bertambah merasa aman tentram karena ia yakin jati dirinya tak akan

terjangkau. Yang lebih menjengkelkan adalah ia juga berpura-pura mengikuti

sayembara. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa menghadapi orang seperti

ini bagaikan menghadapi jin. Mereka tahu kita, sedangkan kita tidak. Seorang

penduduk berkata kepada hakim setempat.

"Mengapa tuan hakim tidak minta bantuan Abu Nawas saja?"

"Bukankah Abu Nawas sedang tidak ada di tempat?" kata hakim itu balik

bertanya.

"Kemana dia?" tanya orang itu.

"Ke Damakus." jawab hakim

"Untuk keperluan apa?" orang itu ingin tahu.

"Memenuhi undangan pangeran negeri itu." kata hakim.

"Kapan ia datang?" tanya orang itu lagi.

"Mungkin dua hari lagi." jawab hakim.

Kini harapan tertumpu sepenuhnya di atas pundak Abu Nawas.

Pencuri yang selama ini merasa aman sekarang menjadi resah dan tertekan. la

merencanakan meninggalkan kampung halaman dengan membawa serta uang

emas yang berhasil dicuri. Tetapi ia membatalkan niat karena dengan

menyingkir ke luar daerah berarti sama halnya dengan membuka topeng dirinya

sendiri. la lalu bertekad tetap tinggal apapun yang akan terjadi.

Abu Nawas telah kembali ke Baghdad karena tugasnya telah selesai. Abu Nawas

menerima tawaran mengikuti sayembara menemukan pencuri uang emas. Hati

pencuri uang emas itu tambah berdebar tak karuan mendengar Abu Nawas

menyiapkan siasat.



Strategi Maling

Tanpa pikir panjang Abu Nawas memutuskan untuk menjual keledai

kesayangannya. Keledai itu merupakan kendaraan Abu Nawas satu-satunya.

Sebenarnya ia tidak tega untuk menjualnya. Tetapi keluarga Abu Nawas amat

membutuhkan uang. Dan istrinya setuju.

Keesokan harinya Abu Nawas membawa keledai ke pasar. Abu Nawas tidak tahu

kalau ada sekelompok pencuri yang terdiri dari empat orang telah mengetahui

keadaan dan rencana Abu Nawas. Mereka sepakat akan memperdaya Abu

Nawas. Rencana pun mulai mereka susun.

Ketika Abu Nawas beristirahat di bawah pohon, salah seorang mendekat dan

berkata,

"Apakah engkau akan menjual kambingmu?"

Tentu saja Abu Nawas terperanjat mendengar pertanyaan yang begitu tibatiba.

"Ini bukan kambing." kata Abu Nawas.

"Kalau bukan kambing, lalu apa?" tanya pencuri itu selanjutnya.

"Keledai." kata Abu Nawas.

"Kalau engkau yakin itu keledai, jual saja ke pasar dan dan tanyakan pada

mereka." kata komplotan pencuri itu sambil berlalu. Abu Nawas tidak

terpengaruh. Kemudian ia meneruskan perjalanannya.

Ketika Abu Nawas sedang menunggang keledai, pencuri kedua menghampirinya

dan berkata."Mengapa kau menunggang kambing."

"Ini bukan kambing tapi keledai."

"Kalau itu keledai aku tidak bertanya seperti itu, dasar orang aneh. Kambing

kok dikatakan keledai."

"Kalau ini kambing' aku tidak akan menungganginya." jawab Abu Nawas tanpa

ragu.

"Kalau engkau tidak percaya, pergilah ke pasar dan tanyakan pada orang-orang

di sana." kata pencuri kedua sambil berlalu.

Abu Nawas belum terpengaruh dan ia tetap berjalan menuju pasar.

Pencuri ketiga datang menghampiri Abu Nawas,"Hai Abu Nawas akan kau bawa

ke mana kambing itu?"

Kali ini Abu Nawas tidak segera menjawab.la mulai ragu, sudah tiga orang

mengatakan kalau hewan yang dibawanya adalah kambing.

Pencuri ketiga tidak menyia-nyiakan kesempatan. la makin merecoki otak Abu

Nawas, "Sudahlah, biarpun kau bersikeras hewan itu adalah keledai nyatanya

itu adalah kambing, kambing ....... kambiiiiiing !"

Abu Nawas berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon. Pencuri

keempat melaksanakan strategi busuknya. la duduk di samping Abu Nawas dan

mengajak tokoh cerdik ini untuk berbincang-bincang.

"Ahaa, bagus sekali kambingmu ini...!" pencuri keempat membuka percakapan.

"Kau juga yakin ini kambing?" tanya Abu Nawas.

"Lho? ya jelas sekali kalau hewan ini adalah kambing. Kalau boleh aku ingin

membelinya."

"Berapa kau mau membayarnya?"

"Tiga dirham!"



Cara Memilih Jalan

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata

ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa

memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke

rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Abu Nawas tidak keberatan.

Mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambil

bercengkrama.

Tak terasa mereka telah menempuh hampir separo perjalanan. Kini mereka

tiba di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan penduduk. Mereka berhenti

karena mereka ragu-ragu. Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke

hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang

dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.

Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karena

bila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali. Bukankah

lebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan? Tetapi salah

seorang dari mereka tiba-tiba berkata,

"Aku mempunyai dua orang sahabat yang tinggal dekat semak-semak sebelah

sana. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa

membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selalu

berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka

adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan

saja."

"Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar?"

tanya Abu Nawas.

"Tidak." jawab kawan Abu Nawas singkat.

"Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak." usul Abu Nawas.



Asmara Yang Aneh

Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra marikota jatuh sakit. Sudah

banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak

seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakan

sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak

terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.

Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa

hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka

berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat

Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.

Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas

sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa.

Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa

peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam

Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib

terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan

penyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju

padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.

Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la

menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.

Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu

Nawas berkata, "Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering

mengembara ke pelosok negeri."

Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. "Sebutkan satu persatu

nama-nama desa di daerah selatan." perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.



Peringatan Aneh

Suatu hari Abu Nawas dipanggil Baginda.

"Abu Nawas." kata Baginda Raja Harun Al Rasyid memulai pembicaraan.

"Daulat Paduka yang mulia." kata Abu Nawas penuh takzim.

"Aku harus berterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau kupanggil bukan

untuk kupermainkan atau kuperangkap. Tetapi aku benar-benar memerlukan

bantuanmu." kata Baginda bersungguh-sungguh.

"Gerangan apakah yang bisa hamba lakukan untuk Paduka yang mulia?" tanya

Abu Nawas.

"Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu aku mendapat kunjungan

kenegaraan dari negeri sahabat. Kebetulan rajanya beragama Yahudi. Raja itu

adalah sahabat karibku. Begitu dia berjumpa denganku dia langsung

mengucapkan salam secara Islam, yaitu Assalamualaikum (kesejahteraan buat

kalian semua) Aku tak menduga sama sekali. Tanpa pikir panjang aku

menjawab sesuai dengan yang diajarkan oleh agama kita, yaitu kalau mendapat

salam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab dengan

Wassamualaikum (Kecelakaan bagi kamu) Tentu saja dia merasa tersinggung.

Dia menanyakan mengapa aku tega membalas salamnya yang penuh doa

keselamatan dengan jawaban yang mengandung kecelakaan. Saat itu sungguh

aku tak bisa berkata apa-apa selain diam. Pertemuanku dengan dia selanjutnya

tidak berjalan dengan semestinya. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku hanya

melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Tetapi dia tidak

bisa menerima penjelasanku. Aku merasakan bahwa pandangannya terhadap

agama Islam tidak semakin baik, tetapi sebaliknya. Dan sebelum kami berpisah

dia berkata: Rupanya hubungan antara. kita mulai sekarang tidak semakin baik,

tetapi sebaliknya. Namun bila engkau mempunyai alasan laih yang bisa aku

terima, kita akan tetap bersahabat." kata Baginda menjelaskan dengan wajah

yang amat murung.

"Kalau hanya itu persoalannya, mungkin, hamba bisa memberikan alasan yang

dikehendaki rajaf sahabat Paduka itu yang mulia." kata Abu Nawas meyakinkan

Baginda.



Ketenangan Hati

Sudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.

Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas

banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu saja

keadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu

nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik

yang dihadapi.

Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.

"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu." kata

kawan Abunawas.

"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal

bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu

sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan

kesulitannya.

Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.

Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di

rumahnya saja.

Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang

mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas

bertanya kepada orang itu.

"Punyakah engkau seekor domba?"

"Tidak tetapi aku mampu membelinya." jawab orang itu.

"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu."

Abunawas menyarankan.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang

disarankan Abunawas.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.

"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku

bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih

buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba." kata orang itu mengeluh.

"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di

dalam rumahmu:" kata Abunawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang

kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu

datang lagi ke rumah Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah

penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan

keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak

perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa." kata orang itu dengan wajah

yang semakin muram.

"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu."kata

Abu Nawas menyarankan

Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak

unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,

"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang

hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada

hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal

serumah dengan binatang-binatang itu." kata orang itu putus asa.

"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu."

kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru

dibelinya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu

"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" Abu Nawas bertanya.

"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal

disini." kata orang itu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu sekarang juallah

unggas-unggasmu." kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.

"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" Abu Nawas bertanya.

"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak

tinggal bersama kami." kata orang itu dengan wajah ceria.

"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu." kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual

dombanya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,

"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" "Kami merasakan rumah kami

bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama

kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami

mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas." kata

orang itu dengan wajah berseri-seri.

"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau

engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut

kesempitan dalam hati dan pikiranmu." kata Abu Nawas menjelaskan.



Taruhan Bahaya

Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah

berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.

"Nah ini Abu Nawas datang." kata salah seorang dari mereka.

"Ada apa?" kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.

"Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang

dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti

dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya." kawan-kawan Abu

Nawas membuka percakapan.

"Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti

kecuali kepada Allah Swt." kata Abu Nawas menentang.

"Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati

Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?" tanya kawan

Abu Nawas.

"Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah

pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung." kata Abu Nawas

memberitahu.

"Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?"

"Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa

taruhannya bila aku bersedia melakukannya?" Abu Nawas ganti bertanya.

"Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau

pantati." kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang

amat berbahaya itu.

Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda

Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus

berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan

kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda

diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan

cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi

keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas

hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan

yang amat mendebarkan itu.

Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja

menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja

dari negeri sahabat.



Abu Nawas Mati

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya

menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia

tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit

kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke

rumah.

"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu."

"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid

menjadi budak."

"Apa?"

"Raja kujadikan budak!"

"Kenapa kau lakukan itu suamiku."

"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu

sengsara."

"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit

diperintahkan untuk menangkapmu."

"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku."

"Pasti kau akan dihukum berat."

"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,"

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua

rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda

datang.

Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu

Nawas menjerit-jerit.

"Ada apa?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.

"Huuuuuu .... suamiku mati....!"

"Hah! Abu Nawas mati?"

"lyaaaa....!"

Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda

terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas

adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.

Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana,

segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat

kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah

mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda