JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH SEKARANG TELAH BERADA BERKAH ALLAH TA'ALA BERSEMAYAM DALAM DADA, JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH DISINI KAMI BERMUNAJAH BERKAH NUR ROSULALLAH TERPANCAR DALAM WAJAH, JAM'IYYAH NURUSSA'ADAH TERDIRI PARA REMAJA PEMUDA MENGHARAP RIDHO ALLAH TA'ALA ATAS DOSA-DOSA YANG ADA, YA ALLAH YANG MAHA AGUNG DISINI KAMI BERSIMPU SAMPAI USIAKU TAK MAMPU KARENA ALLAH TA'ALA YANG MAHA SATU

Ketenangan Hati

Sudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.

Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas

banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu saja

keadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu

nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik

yang dihadapi.

Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.

"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu." kata

kawan Abunawas.

"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal

bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu

sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan

kesulitannya.

Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.

Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di

rumahnya saja.

Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang

mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas

bertanya kepada orang itu.

"Punyakah engkau seekor domba?"

"Tidak tetapi aku mampu membelinya." jawab orang itu.

"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu."

Abunawas menyarankan.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang

disarankan Abunawas.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.

"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku

bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih

buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba." kata orang itu mengeluh.

"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di

dalam rumahmu:" kata Abunawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang

kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu

datang lagi ke rumah Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah

penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan

keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak

perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa." kata orang itu dengan wajah

yang semakin muram.

"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu."kata

Abu Nawas menyarankan

Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak

unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,

"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang

hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada

hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal

serumah dengan binatang-binatang itu." kata orang itu putus asa.

"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu."

kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru

dibelinya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu

"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" Abu Nawas bertanya.

"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal

disini." kata orang itu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu sekarang juallah

unggas-unggasmu." kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.

"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" Abu Nawas bertanya.

"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak

tinggal bersama kami." kata orang itu dengan wajah ceria.

"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu." kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual

dombanya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,

"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" "Kami merasakan rumah kami

bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama

kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami

mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas." kata

orang itu dengan wajah berseri-seri.

"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau

engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut

kesempitan dalam hati dan pikiranmu." kata Abu Nawas menjelaskan.




Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,

"Apakah engkau sering berdoa ?"

"Ya." jawab orang itu.

"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena

manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak

memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang

sebenarnya."

oo000oo

Manusia Bertelur

Sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan Abu

Nawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi

dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja tidak putus

asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas.

Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air

hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal.

Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya

berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri,

"Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas."

"Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?" tanya salah seorang menteri.

"Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini

besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena

aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita." kata Baginda Raja

memberi pengarahan. Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan

apa yang akan digelar besok.

Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di

pemandian air hangat yang terkenal itu. Seperti yang telah direncanakan,

Baginda Raja dan para meriteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa

sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para

menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri. Kemudian Baginda memberi pengarahan

singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu

Nawas.

Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam

di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas

harap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin

permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang

waktu untuk berpikir.

Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, "Hai

Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau

ikut dalam permainan kami"

"Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?" tanya Abu Nawas belum mengerti.

"Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh

binatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing."

kata Baginda sambil tersenyum.

"Hamba belum mengerti Baginda yang mulia." kata Abu Nawas agak ketakutan.

"Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang

tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum!" kata Baginda.

Abu Nawas tidak berkata apa-apa.Wajahnya nampak murung. la semakin yakin

dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah.

Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.

"Nan sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil

menunjukkan telur kita masing-masing." perintah Baginda Raja.

Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu

persatu derigan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam

kolam. ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang

tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam. Kini Abu Nawas tahu

kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing

satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak

akan pernah ada yang bisa.

Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke

permukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati Abu

Nawas.

Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlakau aneh, tiba-tiba saja ia

mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga

Baginda dan para menterinya merasa heran.

"Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para

menteri." kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.

"Kalau begitu engkau harus dihukum." kata Baginda bangga.

"Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas memohon.

"Apalagi hai Abu Nawas." kata Baginda tidak sabar.

"Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya

kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasa

menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang

bisa bertelur. Kuk kuru yuuuuuk...!" kata Abu Nawas dengan membusungkan

dada.

Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang

semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah

padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina.

Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut. Karena merasa

malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan

kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun.

Memang Abu Nawas yang tampaknya blo'on itu sebenarnya diakui oleh para

ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk

membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental

lawan-lawannya.

0 komentar: